Mata pelajaran Matematika memiliki nilai karakter yang bisa diterapkan dalam hidup peserta didik, dengan mewujudkan nilai disiplin dan tanggungjawab.
“Nilai-nilai karakter selama ini hanya masuk dalam matapelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS), agama, dan pendidikan kewarganegaraan (PKn), tetapi sebenarnya di dalam ilmu matematika juga terkandung nilai karakter seperti hidup disiplin dan bertanggungjawab,” kata Guru Matematika SD Menteng 01 Jakarta Pusat, Marmi SPd di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (14/9).
Dia mengatakan hal itu ketika berbicara sebagai narasumber pada Sosialisasi Pengembangan Kurikulum Berbasis Karakter Tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di Aula Biru Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT, yang diikuti oleh para kepala sekolah dan guru mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak/Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ,SD,SMP/MTs,SMA/MA,SMK dan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Kupang dan pengawas sekolah tingkat Propinsi NTT.
Dia memberi contoh seorang peserta didik diberi pekerjaan rumah (PR) oleh guru sebagai bentuk disiplin dan tanggungjawab, maka peserta didik dituntut untuk mengerjakan PR tersebut. “Peserta didik yang baik tentu dengan penuh disiplin dan tanggungjawab mengerjakan PR itu secara benar,” katanya.
Dia menambahkan, penghasilan yang diterima orangtua pun harus dihitung dengan baik agar bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga selama sebulan.
“Kemampuan menghitung diperoleh dari pelajaran matematika yang pernah diterima ketika mengenyam pendidikan. Itulah nilai karakter berupa disiplin dan tanggungjawab yang terus terbawa dalam hidup,”kata Marmi, yang juga trainer atau pelatih matematika tingkat nasional itu.
Karena itu dia meminta guru matematika untuk selalu melakukan inovasi, kreatif, aktif dan berpikir logis ketika mengajar matematika di depan kelas. “Guru matematika dituntut mampu menciptakan suasana menyenangkan di kelas tanpa membuat perbedaan perhatian terhadap peserta didik,” katanya.
Motivasi
Di samping itu, katanya, guru matematika juga dituntut untuk selalu memberi motivasi agar memudahkan peserta didik dalam berkreasi. Menurut Marmi metode pembelajaran sekarang sudah berubah, tidak bisa lagi dengan kekerasan atau marah-marah kepada siswa yang tidak mampu menjawab dengan benar. Guru harus mampu mengayomi semua peserta didik.
“Peserta didik harus terus diberi motivasi agar bisa berkembang,” kata Marmi yang pernah menjadi duta matematika mewakili Indonesia di Malaysia.
Sebagai guru matematika dia menemukan ada peserta didik lebih pintar dari guru. Menurut dia fakta ini perlu diakui dan diapresiasi oleh para guru matematika untuk bangkit dari ketertinggalan.
“Guru matematika harus bangkit memberi motivasi kepada peserta didik untuk menghilangkan image bahwa matematika pelajaran menakutkan,”ujarnya.
ia menambahkan, ada tiga konsep untuk menguasai pelajaran matematika, yakni penanaman konsep, pemahaman, dan pelatihan yang terus menerus.
“Tiga langkah itu harus kita lalui dengan tidak memaksa anak menghafal untuk lulus, tetapi memahami konsep untuk masa depannya,” kata Marmi.
Peserta didik, kata Marmi tidak boleh terlalu dipaksa untuk menghafal karena dampaknya tidak bagus dan semakin cepat lupa. (Antara/ink)