<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SDN RSBI Menteng 01</title>
	<atom:link href="http://sdnmenteng01.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com</link>
	<description>Sekolah Dasar Bertaraf Internasional</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 09:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sdnmenteng01.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/fcd08aee6e7b9c8c20862b173357a439?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>SDN RSBI Menteng 01</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sdnmenteng01.wordpress.com/osd.xml" title="SDN RSBI Menteng 01" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sdnmenteng01.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>1 ONS bukan 100 Gram &#8211; Pendidikan yang Menjadi Boomerang</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2012/01/02/1-ons-bukan-100-gram-pendidikan-yang-menjadi-boomerang/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2012/01/02/1-ons-bukan-100-gram-pendidikan-yang-menjadi-boomerang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 17:46:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Timbangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sdnmenteng01.com/?p=1504</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4403&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir<br />
tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan<br />
limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak<br />
ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara<br />
langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.<br />
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya<br />
menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang<br />
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,<br />
sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan,<br />
teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara<br />
menunjukkanacuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang<br />
mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10<br />
kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau<br />
dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.<img title="Selebihnya..." src="http://khairulazam.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<p><strong>SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.</strong></p>
<p>Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini<br />
kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di<br />
Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun<br />
telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka<br />
justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem<br />
Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran<br />
berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian<br />
dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan<br />
ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak<br />
timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan &#8220;ons&#8221; dan &#8220;pound&#8221;.<br />
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound =<br />
500 gram,ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau<br />
pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100<br />
gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional,<br />
tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini<br />
adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau<br />
dipertahankan ?</p>
<p><strong>BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?</strong></p>
<p>Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku<br />
sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan<br />
salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan<br />
menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana<br />
penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas<br />
dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita)<br />
menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah<br />
mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak<br />
kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. &#8220;Racun&#8221; ini sudah<br />
tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.</p>
<p>Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang<br />
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia<br />
mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk<br />
melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan<br />
petunjuk resmi.</p>
<p><strong>TANGGUNG JAWAB SIAPA ?</strong></p>
<p>Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita<br />
jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada<br />
para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak<br />
menjadi beban psikologis bagi mereka ; &#8220;acuan sistem timbang legal yang<br />
mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional, yang<br />
menyatakan bahwa :<br />
1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.&#8221;?</p>
<p>Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini<br />
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep.<br />
Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku<br />
konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? Patut dipertanyakan<br />
pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yng<br />
melestarikan kesalahan ini ?</p>
<p>Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,<br />
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang<br />
pemakaian satuan &#8220;ons&#8221; dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah<br />
harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem<br />
baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum<br />
diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia<br />
yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound<br />
(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana &#8220;Ons dan Pound (Depdiknas)&#8221; ini<br />
dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa<br />
yang mau pakai ?.</p>
<p><strong>HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI</strong></p>
<p>Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang<br />
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak<br />
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu<br />
contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue<br />
dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.<br />
Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah<br />
nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.<br />
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai<br />
hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia.<br />
Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.<br />
Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur,<br />
Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat<br />
Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita<br />
ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.</p>
<p>Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita<br />
harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya,<br />
materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal<br />
kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat<br />
berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru<br />
bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti<br />
aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan<br />
hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan<br />
yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri<br />
yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.<br />
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar<br />
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh<br />
dengantantangan berat.</p>
<p><strong>ACUAN MANA YANG BENAR ?</strong></p>
<p>Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan<br />
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan<br />
promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.<br />
Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat<br />
dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya<br />
diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.</p>
<p>Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara<br />
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).</p>
<p><strong>1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)</strong></p>
<p><strong>1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)</strong></p>
<p><strong>1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)</strong></p>
<p>Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep<br />
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah<br />
kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?<br />
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!<br />
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.<br />
(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,<br />
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)</p>
<p><strong>KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN &#8211; LALU SIAPA ?</strong></p>
<p>Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan<br />
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua<br />
dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan &#8220;ons<br />
dan pound yang keliru&#8221; dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran system<br />
timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai<br />
pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar.<br />
Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan<br />
kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi<br />
penerus bangsa ini.</p>
<p># # # # #</p>
<p>Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun<br />
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan<br />
mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.<br />
Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum,<br />
untuk diketahui secara luas.</p>
<p>Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan<br />
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak<br />
/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.</p>
<p>Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya<br />
langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota<br />
anda berada.</p>
<p>Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi<br />
menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati<br />
upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.</p>
<p># # # # #</p>
<p>Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila. Ditengah<br />
orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila. Memang banyak orang<br />
yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang diikuti banyak orang itulah<br />
yang pasti dan selalu benar.</p>
<p><strong>LEMBAR PELENGKAP TAKAR &#8211; UKUR &#8211; TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799</strong></p>
<p>Kuantitas Satuan<br />
Simbol Keterangan<br />
Panjang meter<br />
m Bukan mtr<br />
Luas meter persegi m2<br />
Isi meter kubik m3<br />
Berat gram<br />
g Bukan gr<br />
Takaran liter<br />
l 1 l = 1.000 cm3 (cc)<br />
Suhu derajad Celcius º C</p>
<p><strong>BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK</strong></p>
<p>Awalan Faktor Pengal Simbol / Singkatan<br />
Contoh Pemakaian<br />
Giga 1.000.000.000 G GHz<br />
mega 1.000.000 M MW<br />
kilo 1000 k km<br />
hecto 100<br />
h ha<br />
deka 10 da dam<br />
deci 0,1 d dm<br />
centi 0,01 c cm<br />
mili 0,001 m ml<br />
micro 0,000.001 μ<br />
μF</p>
<p>dan seterusnya.</p>
<p>Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran<br />
tanah yang diakui sah secara internasional.<br />
Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang<br />
mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik<br />
maupun non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara<br />
internasional.</p>
<p># # # # #</p>
<p><strong>RANGKUMAN SARAN-SARAN, KRITIK DAN KOMENTAR</strong></p>
<p>1. Banyak orang berpendapat bahwa ONS kita ini tidak ada kaitannya sama<br />
sekali dengan OUNCE.</p>
<p>a. Kalau kita baca kamus-kamus Inggris-Indonesia dan sebaliknya, jelas<br />
bahwa terjemahan &#8220;ounce adalah ons&#8221; dan &#8220;pound adalah pon&#8221; begitu pula<br />
sebaliknya dari Indonesia-Inggris. Bahkan ada beberapa kamus yang<br />
menterjemahkan &#8220;ounce menjadi ons, berat 100 gram.&#8221; Tetapi ada juga yang<br />
menterjemahkan &#8220;ons, 28,3 gram&#8221;.<br />
Nara sumber : Jumlah : 2 orang<br />
Profesi : Guru dan Dosen Bahasa Inggris.</p>
<p>b. Beberapa guru berpendapat bahwa kata &#8220;ons&#8221; jelas bukan asli bahasa<br />
Indonesia, karena bahasa Indonesia hanya mengenal 2 konsonan rangkap,<br />
yaitu &#8220;ng&#8221; dan &#8220;ny&#8221;. Tidak ada konsonan rangkap &#8220;ns&#8221;. Contoh : &#8220;Helm&#8221;<br />
kalau di Indonesiakan menjadi &#8220;helem&#8221;. Kalau &#8220;ons&#8221; tidak bisa dijadikan<br />
&#8220;ones&#8221; tentu karena menyangkut suatu acuan yang harus dilafalkan secara<br />
benar, sama seperti &#8220;gram&#8221; yang tidak boleh ditulis menjadi &#8220;geram&#8221;.<br />
Nara sumber : Jumlah : 2 orang<br />
Profesi : Guru Bahasa Indonesia.</p>
<p>c. Beberapa orang lanjut usia yang cukup terpelajar membenarkan bahwa &#8220;ons<br />
dan pound&#8221; itu bawaan Belanda, bukan asli Indonesia, karena sudah dipakai<br />
sebelum Indonesia merdeka dan diajarkan juga disekolah HIS maupun HCS<br />
(masih jaman penjajahan).</p>
<p>Beberapa diantara mereka ingat bahwa acuan konversi yang diterapkan di<br />
Indonesia tidak sama dengan yang diterapkan di Belanda.<br />
Nara sumber : Jumlah : 7 orang. Usia : 77 s/d. 87 tahun.<br />
Pendidikan terendah : HCS / HIS.<br />
Pendidikan tertinggi : Sarjana<br />
Profesi terakhir : Guru, Kontraktor, Dokter, Pendeta, PN.</p>
<p>2. Acuan internasional yang menyatakan 1 ons = 100 gram , 1 pound = 500<br />
gram jelas-jelas tidak pernah ada. Bahkan Acuan nasional (kalaupun ada<br />
dulu-dulunya) tidak bisa / tidak boleh dipergunakan lagi semenjak<br />
diundangkannya UU no.2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal, yang mencabut<br />
dan membatalkan Ijkordonnantie 1.049 Staatsblad nomor 175.<br />
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.<br />
Profesi : tidak dikenal.</p>
<p>3. Penerbit tidak seharusnya dimintai pertanggung-jawaban karena semua<br />
materi kurikulum yang harus dibukukan telah mendapat persetujuan terlebih<br />
dulu dari Dep. Pendidikan.<br />
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.<br />
Profesi : Pengusaha.</p>
<p>4. Tidak perlu memperlebar masalah / mendramatisir dengan timbangan versi<br />
depdiknas dan sebagainya. Yang penting bagaimana kesalahan ini bisa segera<br />
diakhiri.<br />
Nara Sumber : Jumlah : 1 orang.<br />
Profesi : tidak dikenal.</p>
<p>5. Terkejut dan syok berat tapi Setuju bahwa kita harus menghentikan<br />
kebiasaan salah selama ini dan membiasakan diri menggunakan Sistem<br />
Internasional yang berlaku. Perlu pengumuman resmi dari pemerintah dan<br />
penyuluhan masyarakat melalui instansi yang berwenang.<br />
Nara sumber : Jumlah : lebih dari 100 orang.<br />
Profesi : Guru, Dosen, Karyawan, Mahasiswa, Dokter.</p>
<p>6. Para guru tidak bisa dipersalahkan karena mereka hanya melaksanakan apa<br />
yang telah menjadi kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh<br />
Dep. Pendidikan.<br />
Nara sumber : Jumlah 14 orang.<br />
Profesi : Guru, Ibu Rmh.Tangga,<br />
Karyawan.</p>
<p>7. Di dalam Dep. Pendidikan ada bagian yang khusus melakukan Penelitian,<br />
Pengkajian dan Pengembangan. Kalau ini benar-benar suatu kesalahan, ..<br />
..(hanya geleng-geleng kepala)<br />
Nara sumber : Jumlah : 1 orang<br />
Profesi : Dosen.</p>
<p>8. Bukankah semua pegawai Dir. Metrologi memiliki anak yang juga sekolah<br />
di Indonesia ? Mengapa diam saja ?<br />
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.<br />
Profesi : Kep. Sekolah</p>
<p>9. Sejauh pengetahuan saya, hanya Indonesia yang menerapkan konversi 1 ons<br />
= 100 gram. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap ons itu khusus<br />
Indonesia. Kita memang dianjurkan untuk mencintai produk-produk Indonesia,<br />
tetapi yang satu ini jangan. Mari dihentikan bersama-sama.<br />
Nara sumber : Jumlah : 1 orang.<br />
Profesi : GM Hotel</p>
<p>10. Bisa-bisa ini produk akal-akalan penjajah (VOC) dulu untuk menipu<br />
raja-raja kita. Beli rempah-rempah di Indonesia 1 ons dapat 100 gram,<br />
tetapi dijual di Eropa 1 ons hanya 28 gram.<br />
Mengapa bisa keterusan sampai sekarang ? Harus dihentikan.<br />
Nara sumber : jumlah : 1 orang.<br />
Profesi : Instalatir.</p>
<p>11. Pantas saja, anak saya selalu frustrasi kalau menghitung berat badan<br />
petinju yang ditayangkan di TV. Selalu tidak cocok dengan hitungannya.<br />
Harus segera dihentikan.<br />
Nara sumber : Jumlah : 1 pasutri<br />
Profesi : Anggota Polri &amp; guru SD.</p>
<p>12. Dep. Pendidikan harus mengeluarkan pernyataan resmi, baik kepada<br />
sekolah maupun masyarakat, agar diketahui secara luas.<br />
&#8220;Bahwa pelajaran 1 ons = 100 g. adalah pengetahuan tentang timbangan yang<br />
sifatnya NORMATIF, yang merupakan kebiasaan beberapa daerah di Indonesia.<br />
Karena itu, tidak boleh dijadikan acuan ilmiah, tidak boleh dipakai dalam<br />
transaksi legal, tidak boleh dipakai untuk acuan konversi formal / legal,<br />
misalnya dalam pekerjaan, pembuatan surat-surat resmi dll.&#8221;<br />
Nara sumber : Jumlah : 2 orang.<br />
Profesi : Manager Personalia, Manager<br />
Engineering.</p>
<p># # # # #</p>
<p>(kritik, saran dan komentar diatas selain saya terima dalam bentuk<br />
surat, email, juga pernyataan lisan dari wawancara dengan kepala sekolah,<br />
guru, karyawan pabrik, praktisi, dokter, teknisi, dan warga masyarakat.<br />
Terakhir diterima tgl. 16-04-05)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4403&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2012/01/02/1-ons-bukan-100-gram-pendidikan-yang-menjadi-boomerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khairulazam.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laboratorium Bahasa</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/20/laboratorium-bahasa/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/20/laboratorium-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 11:36:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sdnmenteng01.com/?p=1341</guid>
		<description><![CDATA[Hal-Hal Utama Keefektifan laboratorium bahasa disekolah-sekolah Indonesia pada saat ini sangat rendah dan tergantung pada kemampuan dan kepandaian masing-masing guru serta kepala sekolah diantara sekolah-sekolah tersebut. Situasi seperti ini timbul karena model laboratorium bahasa yang ada kebanyakan tidak dipergunakan serta penyelenggaraan penginstalasian laboratorium bahasa di sekolah tidak diawasi kwalitasnya ( tidak adanya standarisasi kwalitas ), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4401&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hal-Hal Utama</strong></p>
<p align="justify">Keefektifan laboratorium bahasa disekolah-sekolah Indonesia pada saat ini sangat rendah dan tergantung pada kemampuan dan kepandaian masing-masing guru serta kepala sekolah diantara sekolah-sekolah tersebut. Situasi seperti ini timbul karena model laboratorium bahasa yang ada kebanyakan tidak dipergunakan serta penyelenggaraan penginstalasian laboratorium bahasa di sekolah tidak diawasi kwalitasnya ( tidak adanya standarisasi kwalitas ), juga masalah operasional (termasuk pembiayaan yang pro-aktif dan reaktif , suku cadang, pemeliharaan, pelatihan dan anggaran perlatan ) tidak ditujukan secara efektif. Penginstalasian laboratorium bahasa biasanya tidak berdasarkan pada rencana jangka waktu yang cukup lama dan kurang terkoordinasi. Rencana teknologi, pelatihan guru dan pengenalan peralatan mengajar sebaiknya harus sudah diperkenalkan sebelum peralatan tersebut sebelum dipasang.</p>
<p><strong>Berdasarkan situasi yang ada</strong></p>
<p align="justify">Dalam tahun 1982/83 sebanyak 500 Tandberg (sistem 500) Audio Active Comparative (ACC) laboratorium bahasa sebenarnya sudah diinstaslasi disekolah-sekolah Indonesia. Banyak laboratorium Tandberg yang asli masih teta beroperasi. Meskipun, sangat bervariasi sekali dalam hal tingkat ketahanannya juga dalam hal penggantian suku cadang sekarang ini menjadi masalah yang cukup serius. Dan mereka telah &#8220;tersapu&#8221; oleh penginstalasian baru ( kebanyakan laboratorium bahasa Panasonic ) yang sampai saat ini masih terus bertahan.<span id="more-4401"></span></p>
<p><strong>Menuju Model lebih baik</strong></p>
<p align="justify">Syarat utama bagi para pekerja baik yang profesional maupun semi-profesional di Indonesia adalah kemampuan berbahasa asing dan kemampuan komputer. Dan hal yang sangat ditekankan dilapangan adalah kemampuan berbicara / mendengarkan. Mengingat dari seluruh wilayah nusantara hanya 30 % dari lulusan SMU yang melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi ( 70 %nya terjun langsung dalam lapangan kerja ), kemampuan dalam hal tersebut (berkomunikasi) dalam lapangan kerja paling tidak dalam tingkat seimbang pemakaiannya, dan paling tinggi tidak lebih dari kemampuan untuk membaca dan menulis ( biasanya cenderung berorientasi ke tingkat akademi). Sangat jelas bahwa sekarang alokasi waktu untuk mempraktekan kemahiran berbahasa dalam program belajar di sekolah kurang, padahal itu adalah kunci utama yang harus diperhatikan</p>
<p align="justify">Model baru yang mana saja di Indonesia sekarang harus memperhatikan beberapa faktor berikut;</p>
<ul>
<li>akuisisi praktek kemampuan berbahasa (praktek berbicara, mendengarkan dan memahami suara dari penutur asli, meningkatkan keberanian),</li>
<li>ukuran kelas (saat ini jumlah maximum siswa adalah 48 orang), fleksibilitas gaya mengajar (pendekatan komunikatif oleh guru bahasa tidak tercermin dalam model rancangan sekarang ini),</li>
<li>kemampuan memonitor dan bekerja dengan masing-masing siswa (dalam semua bentuk pelajaran),</li>
<li>sistem perawatan prventif.</li>
</ul>
<p align="justify"><a class="frame-holder alignleft" href="http://www.sdnmenteng01.com/?attachment_id=1342"><img title="lab" src="http://www.sdnmenteng01.com/wp-content/uploads/lab.jpg" alt="" width="262" height="324" /></a>Bentuk rencana-ruangan ini mengambarkan 24 siswa dengan bentuk laboratorium-U. Telah dilakukan banyak sekali cara untuk menyelesaikan banyak masalah yang secara spesifik berhubungan dengan kebutuhan program sekolah bahasa. Fokus utama dalam membangun model laboratorium bahasa adalah kwalitas. Dan pertama yang harus diperhatikan adalah ukuran kelas, kegiatan laboratorium, dengan definisi harus memberi kesempatan untuk percobaan yang dapat dimonitor dengan bantuan guru yang sesuai dengan kebutuhan siswa masing=masing. Dibutuhkan usaha yang sangat besar untuk memonitor 48 siswa dalam waktu 45 menit kegiatan mengajar (dikurangi waktu untuk pengenalan pelajaran dan waktu memeriksa ulang) hal ini sangat tidak realisitis. Konsep awal untuk memecahkan masalah ini berpusat diseputar merubah ukuran kelas (dibagi dua), serta membagi ruang laboratorium yang ada dengan partisi (dinding) kaca. Pada ruang ke dua (berkaca) menjadi ruang Self-Access (SA) yaitu tempat dimana siswa/i dapat belajar secara mandiri. Di ruang Self-Access terdapat fasilitas seperti kaset rekaman (kalau ada sisa dari lab yang lama maka ini dapat dimodifikasi), video/TV dan peralatan mendengar (pada kebanyakan sekolah sudah mempunyai televisi dan video yang jarang dipakai di ruangan lain), bahan yang berhubungan dengan kurikulum (yang dibuat sendiri). Materi SA dihasilkan dari sumber-sumber bahan yang ada di perpustakaan termasuk koleksi &#8220;Languages Other Than Indonesian&#8221; (LOTI).</p>
<p align="justify">Walaupun tujuannya untuk memeriksa pengadaan sumber-sumber bahan yang ada di perpustakaan untuk keperluan fasilitas SA, fenomena yang ada sangat mengherankan. Yaitu kebanyakan setiap mengunjungi perpustakaaan selalu kosong, yang ada hanya penjaga perpustakaan atau staf yang hanya mengawasi buku-buku. Berdasarkan pengamatan, mengapa perpustakaan tidak dipergunakan oleh siswa alasannya adalah semua siswa berada didalam kelas. Nyata sekali dalam hal ini bahwa guru tidak biasa memanfaatkan fasilitas perpustakaan sebagai bagian dari strategi mengajar di kelas mereka. Perpustakaan pada dasarnya hanya berfungsi tidak lebih sebagai gudang buku. Hal ini menimbulkan pikiran logis dan jauh lebih bermanfaat untuk megembangkan atau merubah fasilitas perpustakaan daripada membangun ruang khusus berkaca (yang hanya bisa dipakai oleh para siswa bahasa). Kelas laboratorium bahasa dapat dibagi menjadi dua kelompok (masing-masing 24 siswa), dan 24 siswa yang tidak ikut kelas laboratorium dibuatkan jadwal untuk mengunjungi perpustakaan. Rencana ini juga lebih efektif apabila memanfaatkan staf perpustakaan dan mengijinkan guru bahasa lebih bebas untuk memfokuskan diri pada kegiatan belajar bahasa di laboratorium.</p>
<p align="justify"><strong>Keuntungan lebih jauh dari pendekatan seperti ini adalah meningkatnya fasilitas perpustakaan sehingga seluruh anggota lingkungan sekolah dapat menggunakannya selama jam buka perpustakaan. Konsep ini juga menimbulkan masalah penting lainnya (barangkali salah satu yang terpenting) yang perlu dihadapi yaitu &#8211; &#8220;akses perpustakaan&#8221;</strong>. Perpustakaan sekolah biasanya buka hanya selama waktu belajar dan waktu yang singkat setelah sekolah usai (biasanya 15 menit) supaya siswa dapat meminjam buku. Konsep siswa mengunjungi perpustakaan untuk belajar setelah sekolah usai tidak mendapat dukungan. Di Indonesia, dimana jumlah anggota keluarga biasanya besar dan terbatasnya ruangan pribadi dirumah-rumah, seringkali sulit bagi siswa untuk berkonsentrasi membuat pekerjaan rumah atau menemukan ruangan sepi untuk membaca. Membaca dan ketertarikan dalam membaca (minat baca) adalah salah satu dasar untuk membangun dan mendidik masyarakat. Meskipun saat ini, jam buka perpustakaan sekolah pada umumnya tidak mendukung dan mendorong siswa untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Hal ini bukanlah situasi yang hanya terjadi di sekolah tetapi juga di lembaga-lembaga lain, mereka memliki keterbatasan waktu perpustakaan yang singkat. <strong>Perpustakaan Nasional Indonesia menyatakan bahwa perpustakaan harus menjadi &#8220;pusat belajar mengajar&#8221;. Walaupun, hal ini perannnya jauh sangat berbeda dari situasi yang ada saat ini</strong>.</p>
<p align="justify"><strong>Model laboratorium bahasa baru</strong>, berdasarkan pelaksanaannya, mempunyai potensi yang secara keseluruhan dapat meningkatkan kwalitas program belajar bahasa melalui;</p>
<ul>
<li>Meningkatkan rasio guru/siswa secara makro dan pelatihan ketrampilan khusus juga untuk penilaian ketrampilan siswa secara perseorangan.</li>
<li>Meningkatkan fleksibilititas cara mengajar.</li>
<li>Persiapan untuk role-playing (memainkan peran) dan berinteraktif secara langsung untuk menambah sesi praktek berbicara / mendengar dan membantu meningkatkan rasa percaya diri siswa (ditengah-tengah laboratorium model U ini)</li>
<li>Menghilangkan sekat antara para siswa selama waktu praktek untuk menstimulasi siswa berinteraksi sehingga mendorong perkembangan rasa percaya diri.</li>
<li>Meningkatkan akses guru ke siswa untuk memonitor maupun membantu selama latihan cloze dan menulis/ mendengar.</li>
<li>Meningkatkan pengenalan akan alat bantu mengajar (papan tulis, OHP, dll)</li>
<li>Meningkatkan siswa memakai Self Access dan fasilitas perpustakaan.</li>
</ul>
<p><a name="pusat"></a><strong>CATATAN:</strong></p>
<p align="justify">1. Diharapkan bahwa dengan meningkatkan akses dan penggunaan perpustakaan dapat mendorong siswa menggunakan fasilitas sekolah lebih sering serta membantu meningkatkan tingkat minat baca siswa (yang terpenting). Harapan yang dihasilkan selanjutnya dari penganalan self access yaitu <strong>siswa menjadi lebih peka akan kewajiban mereka mengenai pelajarannnya</strong> dan <strong>bagaimana belajar mandiri</strong>. Ini adalah ketrampilan yang ditujukan untuk persiapan yang lebih baik bagi siswa yang ingin melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi maupun yang akan terjun langsung ke lapangan kerja.</p>
<p align="justify">2. Sangat penting dicatat bahwa bentuk pemikiran teknologi pendidikan (termasuk alat bantu belajar komputer) juga akan membutuhkan analisa yang cermat dan pemahaman akan semua kebutuhan serta masalah yang sustainability (terus-menerus), jauh sebelum penginstalasian dimulai. Agar <strong>semua teknologi pendidikan dapat menjadi lebih efektif, efisien serta tetap berlangsung hal tersebut sangat penting sekali untuk dipertimbangkan pengintegrasiannya ke dalam sistem pendukung, yang terbaik adalah mempersatukan keperluan kurikulum, guru dan siswa. Yang harus didahulukan pertama adalah system pendukung baru kemudian teknologi</strong>.</p>
<p style="text-align:right;" align="justify"><strong>e-pendidikan</strong></p>
<p align="justify"><a name="pusat"></a><strong></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4401/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4401&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/20/laboratorium-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sdnmenteng01.com/wp-content/uploads/lab.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lab</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISI-KISI UN Tahun Pelajaran 2011/2011</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/20/kisi-kisi-un-tahun-pelajaran-20112011/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/20/kisi-kisi-un-tahun-pelajaran-20112011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 00:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sdnmenteng01.com/?p=1324</guid>
		<description><![CDATA[Dengan ini kami sampaikan Kisi-Kisi UN Tahun Pelajaran 2011/2012 untuk : SD-MI dan SMP-MTs-SMPLB, SMA-MA-SMALB dan SMK, kepada seluruh siswa yang akan mengkikuti UN dan pendidik kami ucapkan selamat menyongsong pelaksanaan UN TP 2011/2011 semoga dengan semangat belajar dan berlatih akan teraih cita-cita dengan hasil yang maksimal. [button url="http://www.sdnmenteng01.com/wp-content/uploads/Kisi-Kisi-Untuk-SD.pdf" align="center" style="1" arrow="arrow" width="30%"]DOWNLOAD[/button]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4409&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan ini kami sampaikan Kisi-Kisi UN Tahun Pelajaran 2011/2012 untuk : SD-MI dan SMP-MTs-SMPLB, SMA-MA-SMALB dan SMK, kepada seluruh siswa yang akan mengkikuti UN dan pendidik kami ucapkan selamat menyongsong pelaksanaan UN TP 2011/2011<span id="more-4409"></span></p>
<p>semoga dengan semangat belajar dan berlatih akan teraih cita-cita dengan hasil yang maksimal.</p>
<p>[button url="http://www.sdnmenteng01.com/wp-content/uploads/Kisi-Kisi-Untuk-SD.pdf" align="center" style="1" arrow="arrow" width="30%"]DOWNLOAD[/button] </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4409/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4409&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/20/kisi-kisi-un-tahun-pelajaran-20112011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Matematika Mempunyai Nilai Karakter</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/19/matematika-mempunyai-nilai-karakter/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/19/matematika-mempunyai-nilai-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 17:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sdnmenteng01.com/?p=1189</guid>
		<description><![CDATA[Mata pelajaran Matematika memiliki nilai karakter yang bisa diterapkan dalam hidup peserta didik, dengan mewujudkan nilai disiplin dan tanggungjawab. &#8220;Nilai-nilai karakter selama ini hanya masuk dalam matapelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS), agama, dan pendidikan kewarganegaraan (PKn), tetapi sebenarnya di dalam ilmu matematika juga terkandung nilai karakter seperti hidup disiplin dan bertanggungjawab,&#8221; kata Guru Matematika SD [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4402&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mata pelajaran Matematika memiliki nilai karakter yang bisa diterapkan dalam hidup peserta didik, dengan mewujudkan nilai disiplin dan tanggungjawab.</p>
<p>&#8220;Nilai-nilai karakter selama ini hanya masuk dalam matapelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS), agama, dan pendidikan kewarganegaraan (PKn), tetapi sebenarnya di dalam ilmu matematika juga terkandung nilai karakter seperti hidup disiplin dan bertanggungjawab,&#8221; kata Guru Matematika SD Menteng 01 Jakarta Pusat, Marmi SPd di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (14/9).</p>
<p>Dia mengatakan hal itu ketika berbicara sebagai narasumber pada Sosialisasi Pengembangan Kurikulum Berbasis Karakter Tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di Aula Biru Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT, yang diikuti oleh para kepala sekolah dan guru mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak/Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ,SD,SMP/MTs,SMA/MA,SMK dan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Kupang dan pengawas sekolah tingkat Propinsi NTT.<span id="more-4402"></span></p>
<p>Dia memberi contoh seorang peserta didik diberi pekerjaan rumah (PR) oleh guru sebagai bentuk disiplin dan tanggungjawab, maka peserta didik dituntut untuk mengerjakan PR tersebut. &#8220;Peserta didik yang baik tentu dengan penuh disiplin dan tanggungjawab mengerjakan PR itu secara benar,&#8221; katanya.</p>
<p><a href="http://www.sdnmenteng01.com/?attachment_id=1190"><img class="alignleft" title="marmi" src="http://www.sdnmenteng01.com/wp-content/uploads/marmi.jpg" alt="" width="148" height="176" /></a>Dia menambahkan, penghasilan yang diterima orangtua pun harus dihitung dengan baik agar bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga selama sebulan.</p>
<p>&#8220;Kemampuan menghitung diperoleh dari pelajaran matematika yang pernah diterima ketika mengenyam pendidikan. Itulah nilai karakter berupa disiplin dan tanggungjawab yang terus terbawa dalam hidup,&#8221;kata Marmi, yang juga trainer atau pelatih matematika tingkat nasional itu.</p>
<p>Karena itu dia meminta guru matematika untuk selalu melakukan inovasi, kreatif, aktif dan berpikir logis ketika mengajar matematika di depan kelas. &#8220;Guru matematika dituntut mampu menciptakan suasana menyenangkan di kelas tanpa membuat perbedaan perhatian terhadap peserta didik,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Motivasi</strong></p>
<p>Di samping itu, katanya, guru matematika juga dituntut untuk selalu memberi motivasi agar memudahkan peserta didik dalam berkreasi. Menurut Marmi metode pembelajaran sekarang sudah berubah, tidak bisa lagi dengan kekerasan atau marah-marah kepada siswa yang tidak mampu menjawab dengan benar. Guru harus mampu mengayomi semua peserta didik.</p>
<p>&#8220;Peserta didik harus terus diberi motivasi agar bisa berkembang,&#8221; kata Marmi yang pernah menjadi duta matematika mewakili Indonesia di Malaysia.</p>
<p>Sebagai guru matematika dia menemukan ada peserta didik lebih pintar dari guru. Menurut dia fakta ini perlu diakui dan diapresiasi oleh para guru matematika untuk bangkit dari ketertinggalan.</p>
<p>&#8220;Guru matematika harus bangkit memberi motivasi kepada peserta didik untuk menghilangkan image bahwa matematika pelajaran menakutkan,&#8221;ujarnya.</p>
<p>ia menambahkan, ada tiga konsep untuk menguasai pelajaran matematika, yakni penanaman konsep, pemahaman, dan pelatihan yang terus menerus.</p>
<p>&#8220;Tiga langkah itu harus kita lalui dengan tidak memaksa anak menghafal untuk lulus, tetapi memahami konsep untuk masa depannya,&#8221; kata Marmi.</p>
<p>Peserta didik, kata Marmi tidak boleh terlalu dipaksa untuk menghafal karena dampaknya tidak bagus dan semakin cepat lupa. <strong>(Antara/ink)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4402/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4402&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/19/matematika-mempunyai-nilai-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sdnmenteng01.com/wp-content/uploads/marmi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">marmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Pembelajaran Mutakhir dan Inovatif</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/13/konsep-pembelajaran-mutakhir-dan-inovatif/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/13/konsep-pembelajaran-mutakhir-dan-inovatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 17:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[spice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=538</guid>
		<description><![CDATA[SPICES dapat dipandang sebagai sebuah konsep pembelajaran mutakhir dan inovatif. Konsep pembelajaran yang digagas oleh Harden, dkk (1984) ini telah banyak dipraktikkan dan dikembangkan dalam pendidikan medis. SPICES merupakan akronim dari (1) Student-centered, (2) Problem-based; (3) Integrated; (4) Community-based(Consummer-based); (5) Elective; dan (6) Systematic. Akronim ini sekaligus menggambarkan komponen-komponen utama dari konsep pembelajaran ini. Berikut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4400&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SPICES</strong> dapat dipandang sebagai sebuah konsep pembelajaran mutakhir dan inovatif. Konsep pembelajaran yang digagas oleh Harden, dkk (1984) ini telah banyak dipraktikkan dan dikembangkan dalam pendidikan medis.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SPICES</strong> merupakan akronim dari (1) <strong>S</strong>tudent-centered, (2)<strong> P</strong>roblem-based; (3) <strong>I</strong>ntegrated; (4) <strong>C</strong>ommunity-based(<strong>C</strong>onsummer-based); (5) <strong>E</strong>lective; dan (6) <strong>S</strong>ystematic. Akronim ini sekaligus menggambarkan komponen-komponen utama dari konsep pembelajaran ini. Berikut ini disajikan penjelasan singkat dari keenam akronim tersebut.<span id="more-4400"></span></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Student-centered. </em></strong><em>Student centered</em> berarti siswa secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, aktif dalam pengelolaan pengetahuan, belajar menentukan apa yang ingin mereka ketahui, mampu mencari pengetahuan sendiri (mandiri) dan belajar berkesinambungan, memanfaatkan banyak media, penekanan pada pencapaian kompetensi bukan pada tuntasnya materi. Guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembimbing dan pendamping dalam mendapatkan pengetahuan dan keterampilan. Guru mempersiapkan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, sumber belajar yang akan digunakan, serta materi dan evaluasi yang akan dipakai sebagai penuntun bagi siswa untuk mengembangkan kompetensinya secara mandiri.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Problem-based.</em></strong><em><strong> </strong>Problem based </em>berarti siswa diberikan trigger masalah atau ilustrasi kasus yang akan digunakan untuk mencari, menggali dan mengumpulkan informasi dan ilmu. Dengan cara ini siswa dirangsang untuk mengembangkan nalar dan daya analisanya, berpikir kritis dan mampu menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Salah satu metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk memenuhi prinsip pembelajaran ini adalah metode <em>Problem Based Learning</em>.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Integrated.</em></strong><em><strong> </strong>Integrated</em> berarti perencanaan dan kurikulum lajaran didesain secara terintegrasi, baik secara horisontal maupun vertikal. Dalam hal ini, sswa tidak diajak berpikir secara terkotak-kotak dalam masing-masing disiplin ilmu, tetapi mereka dapat menghubungkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya secara utuh (lintas disiplin).</li>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Community-based (Consummer-based).</em></strong><em><strong> </strong>Community based</em> berarti pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat atau pada kepentingan konsumen. Proses pembelajaran siswa tidak hanya dibatasi oleh ruang kelas dengan bahan tekstual tetapi mereka mempelajari berbagai aspek kehidupan masyarakat yang ada di lingkungan nyata mereka. Melalui berbasis komunitas ini, secara langsung siswa diajak untuk berlatih dan belajar mengambil peran secara positif dalam lingkungan sosialnya.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Elective. </em></strong>Selain menyediakan mata pelajaran yang telah terstruktur dalam kurikulum, sekolah seyogyanya menyediakan program-program pilihan yang dapat diambil siswa, disesuaikan dengan minat, tujuan, bakat, dan keunikan karakteristik mereka masing-masing.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong><em>Systematic. </em></strong>Pembelajaran dikembangkan dengan tujuan, materi dan tahapan-tahapan yang jelas, logis dan tertib, sehingga pada gilirannya para siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan mencapai kompetensi secara utuh.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dilhat dari komponen-komponen yang terkandung dalam <strong>SPICES, </strong>konsep pembelajaran ini tampak menawarkan berbagai keunggulan kepada kita, diantaranya: (1) menjadikan siswa lebih termotivasi dan aktif dalam proses belajarnya (2) pengembangan keterampilan memecahkan masalah secara komprehensif; (3) pengembangan kemampuan berfikir analistis secara lebih tajam dan luas, (4) melatih keterampilan sosial yang benar-benar aplikabel dalam lingkungan sosialnya; (5) memberikan kesempatan belajar kepada siswa yang sesuai dengan bakat, minat dan keunikan karakteristik lainnya; dan (6) menjadikan proses pembelajaran lebih tertib dan efektif.</p>
<p>==================</p>
<p><strong>Refleksi:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Melihat berbagai keunggulan yang ada, konsep pembelajaran ini sangat memungkinkan untuk diadopsi dan diterapkan pula dalam bidang pendidikan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks pendidikan nasional, khususnya dalam konteks KTSP , konsep pembelajaran ini tampaknya sejalan dan dapat disetarakan (meski tidak sepenuhnya identik) dengan konsep PAIKEM, yang saat ini sedang gencar disosialisasikan dan dilaksanakan di sekolah-sekolah kita.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Selamat ber-SPICES dan semoga pendidikan kita dapat menjadi lebih baik…</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4400/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4400&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/13/konsep-pembelajaran-mutakhir-dan-inovatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Penulisan Skripsi</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/tentang-penulisan-skripsi/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/tentang-penulisan-skripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 16:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[skripsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Skripsi adalah karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana. Skripsi ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian. Penulisan skripsi berbeda dengan penulisan laporan. Jika laporan tidak mengemukakan penafsiran, maka skripsi bertolak dari keinginan untuk mengemukakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4399&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Skripsi</strong> adalah karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana. <strong>Skripsi</strong> ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulisan skripsi berbeda dengan penulisan laporan. Jika laporan tidak mengemukakan penafsiran, maka skripsi bertolak dari keinginan untuk mengemukakan penafsiran dan analisa kenyataan-kenyataan.<span id="more-4399"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Skripsi</strong> tidak membiarkan kenyataan-kenyataan itu sebagaimana adanya. la bergerak lebih jauh.  Dengan demikian,  skripsi harus mengemukakan kenyataan-kenyataan itu dengan dasar logika. Artinya ia harus memandangnya dari konstruksi sebab-akibat. Tidak sekedar mengetahui kenyataan tetapi memahami kenyataan tersebut dalam hubungan sebab-akibat. Agar supaya penafsiran dan analisa dalam skripsi itu tepat, diperlukan laporan tentang peristiwa dan kenyataan yang sah yang tidak mungkin diragukan lagi. Tetapi skripsi tidak memuaskan diri dengan kenyataan dan peristiwa belaka, bagaimanapun sahnya kenyataan dan peristiwa itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah skripsi harus dapat mengemukakan persoalan. Tetapi berbeda dengan sebuah tesis, sebuah skripsi tidak bermaksud untuk memecahkan persoalan yang dikemukakannya. Pemecahan masalah itu tidak diperlukan di dalam skripsi, karena skripsi tidak akan sampai. kepada perumusan kesimpulan. Cukuplah jika ia dapat mengemukakan kenyataan peristiwa yang diolah dari laporan yang sah dengan sistimatis dan dengan maksud untuk mengemukakan masalah-masalah yang akan dianalisa dengan dasar-dasar logika. Mengemukakan dan mengidentifikasi suatu masalah bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan dalam merumuskan masalah, berarti turunnya nilai skripsi, dan tentu saja nilai analisa skripsi itu. Untuk mengemukakan kenyataan peristiwa, masalah-masalah, dan analisa diperlukan suatu sistimatika formal dan disiplin teoritis.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan rancangan penelitian<em> </em>untuk skripsi,  pada umumnya rancangan disusun <em> </em>dengan<em> </em>memuat <em>: </em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Latar Belakang: mengapa dan apa yang mendorong peneliti memilih topik penelitian ini. Dalam memaparkan latar belakang seyogyanya didukung oleh data, fakta (fenomena empirik), terkait dengan fokus masalah yang hendak diteliti.</li>
<li>Masalah: Rumuskan masalah secara jelas, singkat, termasuk konsep-konsep yang digunakan, masalah dibatasi, bagian mana yang digarap, mengapa bagian itu yang diambil, dan gambarkan pentingnya masalah: sumbangannya terhadap perkembangan ilmu, kegunaan praktis, dan hubungan dengan penelitian lain.</li>
<li>Kerangka Teori: gambarkan konsep-konsep yang digunakan, pendekatan yang digunakan, gambarkan teori-teori yang pernah ada yang berkaitan dengan masalah yang digarap, kemukakan asumsi-asumsi dasar sebagai landasan berpikir, dan kemukakan hipotesis bila ada. Untuk penelitian sastra yang deskriptif, hipotesis tidak diperlukan. Berkaitan dengan landasan teori,  Tjutju Yuniarsih (2007) mengemukakan bahwa teori yang digunakan hendaknya bersumber dari teori yang sudah kokoh. Teori digunakan untuk memprediksi keterkaitan antar variabel yang dituangkan dalam kerangka (model) penelitian.  Menggunakan  teori sesuai kebutuhan (bukan bunga rampai kutipan) dan pentingnya menghindari pengutipan teori-teori yang   berlawanan, kecuali ada maksud lain</li>
<li>Populasi dan Sampel: gambarkan tentang jenis dan besarnya populasi dan tentukan sampel penelitian.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hal-hal yang lain yang harus  diperhatikan dalam menyusun skripsi, diantaranya:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Struktur kalimat dan kaidah bahasa, seperti:  penggunaan ejaan yang disempurnakan, penulisan tanda baca, kata sambung,  <em>capital letter, bold, italic, underline, subscript, superscript, </em>kalimat standar (subyek-predikat-obyek)  dsb.</li>
<li>Keterkaitan dan konsistensi uraian dalam keseluruhan penelitian: adanya kejelasan <em>benang merah</em> mulai dari latar belakang (dengan fenomenanya), fokus masalah, judul penelitian, kerangka pemikiran (termasuk <em>grand teori</em> yang melahirkan indikator atau dimensi), teori pendukung, desain penelitian ( metode, pendekatan, teknik analisis dan pembahasan), instrumen penelitian, analisis hasil penelitian kesimpulan, sampai ke rekomendasi.</li>
<li>Aspek teknis dan sistematika penulisan: kodifikasi dan pengetikan struktur, teknik penulisan kutipan</li>
<li>Penulisan referensi:  nama penulis ditulis dengan menggunakan sistem indeks, baris pertama dimulai di margin kiri dan baris selanjutnya menakuk 6 karakter, menggunakan jarak baris satu, kecuali jarak antara dua sumber menggunakan jarak 2, disusun berdasarkan abjad nama penulis, penulisan referensi hanya yang digunakan sebagai sumber rujukan di dalam skripsi</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sumber:</p>
<p style="text-align:justify;">Apridar, dkk. 2008.  <em>Petunjuk Penulisan  Karya Ilmiah</em>. Loksheumawe: Unimal Press.</p>
<p style="text-align:justify;">Tjutju Yuniarsih, 2007, <em>Kaidah Umum Penulisan Skripsi </em>(Bahan Presentasi Pembimbingan Mahasiswa UNIKU). Kuningan: UNIKU</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4399/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4399&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/tentang-penulisan-skripsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kompetensi Guru dan Peran Kepala Sekolah</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/kompetensi-guru-dan-peran-kepala-sekolah/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/kompetensi-guru-dan-peran-kepala-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 00:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=532</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak : Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan melalui optimalisasi peran kepala stsekolah, sebagai : educator, manajer, administrator, supervisor, leader, pencipta iklim kerja dan wirausahawan. Kata kunci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4398&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Abstrak :</strong> Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan melalui optimalisasi peran kepala stsekolah, sebagai : educator, manajer, administrator, supervisor, leader, pencipta iklim kerja dan wirausahawan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata kunci : kompetensi guru, peran kepala sekolah<span id="more-4398"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, pemerintah khususnya melalui Depdiknas terus menerus berupaya melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Michael G. Fullan yang dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan bahwa “<em>educational change depends on what teachers do and think</em>…”. Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “w<em>hat teachers do and think</em> “. atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita amati lebih jauh tentang realita kompetensi guru saat ini agaknya masih beragam. Sudarwan Danim (2002) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (<em>work performance</em>) yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajat penguasaan kompetensi yang memadai, oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif guna meningkatkan kompetensi guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini akan memaparkan tentang apa itu kompetensi guru dan bagaimana upaya-upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dilihat dari peran kepala sekolah. Dengan harapan kiranya tulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi bagi para guru maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> B. Hakikat Kompetensi Guru</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu ? Louise Moqvist (2003) mengemukakan bahwa “<em>competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work</em>. Sementara itu, dari Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (1992) menyebutkan bahwa : ” <em>A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari kedua pendapat di atas kita dapat menarik benang merah bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (<em>be able to do</em>) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Agar dapat melakukan (<em>be able to do</em>) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (<em>ability</em>) dalam bentuk pengetahuan (<em>knowledge</em>), sikap (<em>attitude</em>) dan keterampilan (<em>skill</em>) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan..</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih jauh, Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi guru, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.</li>
<li>Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas.</li>
<li>Kompetensi personal; yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.</li>
<li>Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.</li>
<li>Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.</li>
<li>Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sebagai pembanding, dari National Board for Profesional Teaching Skill (2002) telah merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika, yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru, dengan rumusan <em>What Teachers Should Know and Be Able to Do</em>, didalamnya terdiri dari lima proposisi utama, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Teachers are Committed to Students and Their Learning </em>yang mencakup : (a) penghargaan guru terhadap perbedaan individual siswa, (b) pemahaman guru tentang perkembangan belajar siswa, (c) perlakuan guru terhadap seluruh siswa secara adil, dan (d) misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir siswa.</li>
<li><em>Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students</em> mencakup : (a) apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan, disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain, (b) kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran (c) mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path).</li>
<li><em>Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning</em> mencakup: (a) penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (b) menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan siswa, (c) menilai kemajuan siswa secara teratur, dan (d) kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.</li>
<li><em>Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience</em> mencakup: (a) Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik, (b) guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran.</li>
<li><em>Teachers are Members of Learning Communitie</em>s mencakup : (a) guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya, (b) guru bekerja sama dengan tua orang siswa, (c) guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Secara esensial, ketiga pendapat di atas tidak menunjukkan adanya perbedaan yang prinsipil. Letak perbedaannya hanya pada cara pengelompokkannya. Isi rincian kompetensi pedagodik yang disampaikan oleh Depdiknas, menurut Raka Joni sudah teramu dalam kompetensi profesional. Sementara dari NBPTS tidak mengenal adanya pengelompokan jenis kompetensi, tetapi langsung memaparkan tentang aspek-aspek kemampuan yang seyogyanya dikuasai guru.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswanya. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari siswa, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.</p>
<p style="text-align:justify;">Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pembelajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak pada praktek pembelajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para siswanya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pembelajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;</p>
<p style="text-align:justify;">Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Kepala sekolah sebagai manajer</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Kepala sekolah sebagai administrator</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Kepala sekolah sebagai supervisor</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, — tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru ? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>D. Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Kompetensi guru merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan..</li>
<li>Kompetensi guru terdiri dari kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.</li>
<li>Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya.</li>
<li>Kepala sekolah memiliki peranan yang strategis dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, baik sebagai educator (pendidik), manajer, administrator, supervisor, leader (pemimpin), pencipta iklim kerja maupun sebagai wirausahawan.</li>
<li>Seberapa jauh kepala sekolah dapat mengoptimalkan segenap peran yang diembannya, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, dan pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.</li>
</ol>
<p><strong>Oleh : Akhmad Sudrajat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber Bacaan :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">Bambang Budi Wiyono. 2000. <em>Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Semangat Kerja Guru dalam Melaksanakan Tugas Jabatan di Sekolah Dasar</em>. (abstrak) Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat, Teori, dan Praktik Kependidikan. Universitas Negeri Malang. (Accessed, 31 Oct 2002).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">Depdiknas. 2006. <em>Standar Kompetensi Kepala Sekolah TK,SD, SMP, SMA, SMK &amp; SLB</em>, Jakarta : BP. Cipta Karya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">————––. 2006. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. http://www.depdiknas.go.id/ inlink. (accessed 9 Feb 2003).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">Louise Moqvist. 2003. <em>The Competency Dimension of Leadership: Findings from a Study of Self-Image among Top Managers in the Changing Swedish Public Administration</em>. Centre for Studies of Humans, Technology and Organisation, Linköping University.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">Mary E. Dilworth &amp; David G. Imig. <em>Professional Teacher Development and the Reform Agend</em>a. ERIC Digest. 1995. . (Accessed 31 Oct 2002 ).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . <em>Five Core Propositions</em>. NBPTS HomePage. (Accessed, 31 Oct 2002).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">Sudarwan Danim. 2002.<em> Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.</em> Bandung : Pustaka Setia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25pt;text-indent:-25pt;text-align:justify;">Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">*))Akhmad Sudrajat adalah staf pengajar di Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU dan Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4398/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4398&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/kompetensi-guru-dan-peran-kepala-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Guru bisa Menjadi Pekerjaan Profesional yang Sejatinya?</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/apakah-guru-bisa-menjadi-pekerjaan-profesional-yang-sejatinya/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/apakah-guru-bisa-menjadi-pekerjaan-profesional-yang-sejatinya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 00:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Meski saat ini telah lahir Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai landasan yuridis profesi guru, tetapi untuk menjadikan guru di Indonesia sebagai sebuah pekerjaan profesional yang sejatinya (A True Professional) tampaknya masih perlu dikaji dan direnungkan lebih jauh. Wikipedia menyebutkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dari sebuah pekerjaan profesional yang sejatinya, yakni: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4397&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski saat ini telah lahir Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai landasan yuridis profesi guru, tetapi untuk menjadikan guru di Indonesia sebagai sebuah pekerjaan profesional yang sejatinya (A True Professional) tampaknya masih perlu dikaji dan direnungkan lebih jauh.</p>
<p>Wikipedia menyebutkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dari sebuah pekerjaan profesional yang sejatinya, yakni: (</p>
<p>1) academic qualifications – a doctoral or law degree – i.e., university college/institute;</p>
<p>(2) expert and specialised knowledge in field which one is practising professionally;</p>
<p>(3) excellent manual/practical and literary skills in relation to profession;<span id="more-4397"></span></p>
<p>(4) high quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavours;</p>
<p>(5) a high standard of professional ethics, behaviour and work activities while carrying out one’s profession (as an employee, self-employed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc.)</p>
<p>Merujuk pada pemikiran Wikipedia di atas, mari kita telaah lebih lanjut tentang guru sebagai seorang profesional. Berdasarkan kriteria yang pertama, seorang guru bisa dikatakan sebagai seorang profesional yang sejatinya apabila dia memiliki latar belakang pendidikan sekurang-sekurangnya setingkat sarjana. Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa untuk dapat memangku jabatan guru minimal memiliki kualifikasi pendidikan D4/S1. Ketentuan ini telah memacu para guru untuk berusaha meningkatkan kualiafikasi akademiknya, baik atas biaya sendiri maupun melalui bantuan bea siswa pemerintah. Walaupun, dalam beberapa kasus tertentu ditemukan ketidakselarasan dan inkonsistensi program studi yang dipilihnya. Misalnya, semula dia berlatar belakang D3 Bimbingan dan Konseling tetapi mungkin karena alasan-alasan tertentu yang sifatnya pragmatis, dia malah melanjutkan studinya pada program studi lain.</p>
<p>Terkait dengan kriteria kedua, guru adalah seorang ahli. Sebagai seorang ahli, maka dalam diri guru harus tersedia pengetahuan yang luas dan mendalam (kemampuan kognisi atau akademik tingkat tinggi) yang terkait dengan substansi mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Dia harus sanggup mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi dan mengendalikan tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya. Misalnya, seorang guru Biologi harus mampu menjelaskan, mendeskripsikan, memprediksikan dan mengendalikan tentang berbagai fenomena yang berhubungan dengan Biologi, walaupun dalam hal ini mungkin tidak sehebat ahli biologi (sains).</p>
<p>Selain memiliki pengetahuan yang tinggi dalam substansi bidang mata pelajaran yang diampunya, seorang guru dituntut pula untuk menunjukkan keterampilannya secara unggul dalam bidang pendidikan dan pembelajaran (kemampuan pedagogik), seperti: keterampilan menerapkan berbagai metode dan teknik pembelajaran, teknik pengelolaan kelas, keterampilan memanfaatkan media dan sumber belajar, dan sebagainya. Keterampilan pedagogik inilah yang justru akan membedakan guru dengan ahli lain dalam bidang sains yang terkait. Untuk memperoleh keterampilan pedagogik ini, di samping memerlukan bakat tersendiri juga diperlukan latihan secara sistematis dan berkesinambungan.</p>
<p>Lebih dari itu, seorang guru tidak hanya sekedar unggul dalam mempraktikkan pengetahuanya tetapi juga mampu menuliskan (literary skills) segala sesuatu yang berhubungan bidang keilmuan (substansi mata pelajaran) dan bidang yang terkait pendidikan dan pembelajaran, misalnya kemampuan membuat laporan penelitian, makalah, menulis buku dan kegiatan literasi lainnya. Inilah kriteria yang ketiga dari seorang profesional.</p>
<p>Kriteria keempat, seorang guru dikatakan sebagai profesional yang sejatinya manakala dapat bekerja dengan kualitas tinggi. Pekerjaan guru termasuk dalam bidang jasa atau pelayanan (service). Pelayanan yang berkualitas dari seorang guru ditunjukkan melalui kepuasan dari para pengguna jasa guru yaitu siswa.</p>
<p>Kepuasaan utama siswa selaku pihak yang dilayani guru terletak pada pencapaian prestasi belajar dan terkembangkannya segenap potensi yang dimilikinya secara optimal melalui proses pembelajaran yang mendidik. Untuk bisa memberikan kepuasan ini tentunya dibutuhkan kesungguhan dan kerja cerdas dari guru itu sendiri.</p>
<p>Kritera terakhir, seorang guru dikatakan sebagai seorang profesioanal yang sejati apabila dia dapat berperilaku sejalan dengan kode etik profesi serta dapat bekerja dengan standar yang tinggi. Beberapa produk hukum kita sudah menggariskan standar-standar yang berkaitan dengan tugas guru. Guru profesional yang sejatinya tentunya tidak hanya sanggup memenuhi standar secara minimal, tetapi akan mengejar standar yang lebih tinggi. Termasuk dalam kriteria yang kelima adalah membangun rasa kesejawatan dengan rekan seprofesi untuk bersama-sama membangun profesi dan menegakkan kode etik profesi.</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas, ada sebuah refleksi bagi saya dan mungkin  juga Anda. Bahwa untuk menjadi guru dengan predikat sebagai profesional yang sejati tampaknya tidaklah mudah, tidak cukup hanya dinyatakan melalui selembar kertas yang diperoleh melalui proses sertifikasi. Tetapi betapa kita dituntut lebih jauh untuk terus mengasah kemampuan kita secara sungguh-sungguh  guna memenuhi  segenap kriteria yang telah dikemukakan di atas, yang salah satunya dapat dilakukan melalui usaha belajar dan terus belajar yang tiada henti.</p>
<p>Jika tidak, maka kita mungkin hanya akan menyandang predikat sebagai “guru-guruan”, alias pura-pura menjadi guru atau malah mungkin menjadi guru gadungan yang justru akan semakin merusak dan membahayakan pendidikan. Semoga saya dan Anda sekalian tidak termasuk kategori yang satu  ini dan mari belajar !</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4397/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4397&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/apakah-guru-bisa-menjadi-pekerjaan-profesional-yang-sejatinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru dan Siswa yang Terintimidasi</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/guru-dan-siswa-yang-terintimidasi/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/guru-dan-siswa-yang-terintimidasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 00:39:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Les Parsons dalam bukunya yang berjudul Bullied Teacher Bullied Student mengupas tentang perilaku intimidasi di sekolah, baik yang dilakukan oleh siswa, guru, maupun kepala sekolah. Dengan mengutip pemikiran Peter Randall, dikemukakannya bahwa yang dimaksud dengan perilaku intimidasi adalah perilaku agresif yang muncul dari suatu maksud yang disengaja untuk mengakibatkan tekanan kepada orang lain secara fisik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4396&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Les Parsons dalam bukunya yang berjudul <em>Bullied Teacher Bullied Student </em>mengupas tentang perilaku intimidasi di sekolah, baik yang dilakukan oleh siswa, guru, maupun kepala sekolah. Dengan mengutip pemikiran Peter Randall, dikemukakannya bahwa yang dimaksud dengan perilaku intimidasi adalah<em> perilaku agresif yang muncul dari suatu maksud yang disengaja untuk mengakibatkan tekanan kepada orang lain secara fisik dan psikologis</em>. Perilaku yang agresif dan menyakitkan ini dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang. Disebutkan pula, bahwa kunci utama dari pengertian ini terletak pada penyalahgunaan secara sistematis dari ketidakseimbangan kekuatan.<span id="more-4396"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat beberapa poin penting tentang permasalahan perilaku intimidasi di sekolah, diantaranya:</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Di sekolah, intimidasi dapat terjadi dimana saja dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Pelaku intimidasi bisa siswa atau orang dewasa.</li>
<li style="text-align:justify;">Pelaku intimidasi dapat beraksi sendirian atau bersama kaki tangan.</li>
<li style="text-align:justify;">Sasaran intimidasi dapat merupakan seseorang atau sekelompok orang.</li>
<li style="text-align:justify;">Intimidasi adalah perbuatan berulang seseorang atau sekelompok orang yang takut kepada si pelaku intimidasi Di sini tampak terdapat ketidakseimbangan kekuatan.</li>
<li style="text-align:justify;">Pelaku intimidasi secara sengaja bermaksud menyakiti seseorang secara fisik, emosi atau sosial.</li>
<li style="text-align:justify;">Pelaku intimidasi sering merasa perbuatannya itu dapat dibenarkan.</li>
<li style="text-align:justify;">Pelaku intimidasi sering terorganisasi dan sistematis.</li>
<li style="text-align:justify;">Pelaku intimidasi para saksi atau penonton yang tidak akan berbuat apa pun untuk menghentikan intimidasi itu atau malah mendukung perbuatan tersebut.</li>
<li style="text-align:justify;">Intimidasi dapat berlangsung untuk waktu jangka pendek atau untuk waktu yang tidak terbatas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ilustrasi berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran tentang perilaku intimidasi yang terjadi di sekolah, baik yang dilakukan siswa, guru, kepala sekolah maupun orang tua;:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Seorang siswa yang populer, menarik dan berprestasi, yang dipandang oleh orang dewasa sebagai sosok yang patut ditiru dan seorang pemimpin kelas, namun dibalik itu dia memiliki pengaruh sosial untuk mendominasi, mengendalikan dan secara selektif mengucilkan teman-temannya.</li>
<li>Seorang guru pekerja keras yang dimata orang tua dianggap sebagai seorang yang profesional dan mampu mengendalikan kelas dengan sempurna, serta memiliki standar-standar tinggi, tetapi secara berkala membuat siswa menangis karena kata-kata kasarnya, tindakan-tindakan yang mempermalukan dan ejekan-ejekannya.</li>
<li>Kepala sekolah yang dengan seksama dan sistematis melecehkan staf dan guru yang dianggap sebagai saingannya, sementara dihadapan atasannya ia terlihat berperilaku lembut dan penurut.</li>
<li>Orang tua agresif; untuk menekan perilaku agesif anaknya di rumah, tetapi merespons luapan keagresifan terpendamnya di sekolah dengan menyalahkan pihak sekolah secara keji dan berang, secara terus menerus melecehkan sekolah atas setiap kecerobohan yang mereka lihat.</li>
</ol>
<p><strong>A. </strong><strong>Siswa yang Mengintimidasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Siswa yang melakukan intimidasi pada siswa lain terdorong oleh beberapa alasan:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. </strong><strong>Gangguan pengendalian diri; </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Siswa seperti ini merasa berselisih dengan dunia yang serba bermusuhan. Mereka mengalami kegelisahan emosional, salah menafsirkan dan salah memahami segala bentuk interaksi dengan orang lain, dan tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan agresif; yang muncul. Mereka sering melanggar peraturan, memulai tindakan agresif, ;merusak milik orang, menyalahkan orang lain, dan menunjukkan kurang pengertian atau simpati terhadap hak-hak dan perasaan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>Intimidasi yang dipelajari</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Siswa dapat belajar mengintimidasi melalui berbagai cara, seperti: menyaksikan perbuatan-perbuatan kejam, mendapat imbalan atas tindakan ;agresif yang pernah dilakukannya, termasuk jika dia mendapatkan perlakuan agresif dari orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan hukuman fisik, hukuman yang tidak konsisten dan pemanjaan berlebihan yang dilakukan oleh orang tua memiliki korelasi dengan perilaku agresif anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. </strong><strong>Mengintimidasi untuk memperoleh sesuatu </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sebagian besar anak melakukan intimidasi, mereka mempunyai tujuan yang jelas dalam benak mereka. Mereka sengaja menggunakan kekerasan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan dari orang lain—uang jajan, jawaban ketika mengahadapi ujian, atau hanya sekedar kesenangan untuk mendominasi, dan bahkan untuk memperkokoh status dan harga diri dalam hierarki sosial</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menghadapi kasus-kasus di atas, para guru mestinya dapat melihatnya sebagai gejala dari suatu kelainan, bukanlah perbuatan atas kemauan sendiri. Dalam hal ini, bukan berarti guru membolehkan atau memaafkan perilaku agresif tersebut, tetapi guru harus mampu merencanakan pendekatan manajemen kelas yang tepat, bekerja sama dengan ahli atau nara sumber spesialis yang terlatih.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. </strong><strong>Guru yang Mengintimidasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Guru pelaku intimidasi adalah guru yang menggunakan kekuasaannya untuk menghukum, memanipulasi, atau mengolok-olok siswa, melampaui tindakan disipliner yang masuk akal.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru pelaku intimidasi kadang tidak mampu melihat dirinya yang sesungguhnya. Mereka mengartikan perlakuan agresifnya sebagai suatu tindakan yang tegas, perkataan mereka yang kasar dianggapnya sebagai ungkapan jujur, ketidakkonsistenan sebagai flesksibilitas, serta kekakuan dan obsesi mereka terhadap hal-hal remeh dianggap sebagai ketelitiannya. Pelaku-pelaku intimidasi semacam ini jarang mengakui kesalahan mereka dan menganggap kekeliruan adalah kesalahan orang lain. Mereka merasa penting, berkuasa, elite dan berhak. Menganggap orang lain iri, memanipulasi dan mengeksploitasi orang lain demi kepentingan mereka sendiri, dan tidak memiliki empati bagi target mereka. Mereka menjadi pribadi yang egois, tidak dapat diprediksi, kritis dan pemarah. Sebagai orang dewasa, guru pelaku intimidasi lihai dalam memilih sasaran, terutama ke samping, ke bawah, tetapi jarang mengintimidasi ke atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Perilaku guru mengintimidasi meliputi: (1) kekerasan verbal melalui penggunaan stereotip- stereotip dan penamaan yang bermuatan seksis, rasis, kultur, sosio-ekonomi, ketidaksempurnaan fisik dan homofobik; (2) kekerasan fisik; seperti mengguncang, mendorong, mencubit, menjambak, menjewer, memukul dengan penggaris atau melemparkan sesuatu; (3) kekerasan psikologis; berteriak, berbicara dengan sarkasme, menyobek hasil herja, mengadu domba siswa, membuat ancaman-ancaman.; (4) kekerasan yang berkaitan dengan profesionalisme; penilaian yang tidak adil, menerapkan hukuman dengan pilih-pilih, menggunakan cara-cara pendisiplinan yang tidak pantas, mengarahkan pada kegagalan dengan menetapkan standar yang tidak wajar, membohongi rekan kerja, orang tua siswa, atasan mengenai perilaku siswa, mengambil kesempatan dengan menggunakan materi-materi atau pengayaan, mengintimidasi orang tua karena hambatan bahasa, budaya, atau status sosial ekonomi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. </strong><strong>Kepala Sekolah yang Mengintimidasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kepala sekolah memulai kariernya sebagai guru dan kemudian dipromosikan melalui jenjang karier. Perkembangan itu adalah sumber dari kekuatan terbesar mereka dan juga kelemahan terbesar mereka. Kapasitasnya sebagai manajer, kerapkali menjadikan guru, karyawan dan siswa sebagai sasaran kekerasan. Kepala sekolah yang suka mengintimidasi akan menghasilkan perilaku intimidasi pula pada guru, karyawan dan bahkan siswa. Kepala sekolah yang mengintimidasi sering mencoba meremehkan dan merusak hasil kerja guru yang paling berbakat dan kreatif, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap sekolah. secara keseluruhan Perilaku kepala sekolah yang mengintimidasi seringkali menjadi kontradiktif dan membingungkan. Mereka memandang bahwa diri mereka disalahmengertikan dan diganggu. Padahal, faktanya mereka adalah perusak dan disfungsional.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap sekolah haruslah menjadi tempat dimana siswa dan seluruh komunitas merasa aman dan tentram secara fisik maupun emosional. Intimidasi dalam bentuk apa pun, baik yang dilakukan oleh siswa, guru atau kepala sekolah dapat menjadi ancaman dan menghalangi proses pembelajaran. Satu-satunya cara untuk secara tegas menghalau dan menjauhkan intimidasi adalah dengan memaksakan keadilan bagi semua. Hanya dengan itulah sekolah-sekolah akan menjadi lingkungan belajar yang positif, di mana proses pembelajaran dapat dimaksimalkan dan setiap siswa merasa dihargai</p>
<p><span style="font-family:Arial;">AKHMAD SUDRAJAT</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Les Parsons. 2009. <strong><em>Bullied Teacher Bullied Student </em> (<em>Guru dan Siswa yang Terintimidasi; Mengenali Budaya Kekerasan di sekolah Anda dan Mengatasinya</em>)</strong> Terj.Grace Worang, dkk. Jakarta: Grasindo.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4396/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4396&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/guru-dan-siswa-yang-terintimidasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Program Induksi untuk Mencegah Malpraktik</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/program-induksi-untuk-mencegah-malpraktik/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/program-induksi-untuk-mencegah-malpraktik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 00:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=525</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA–Malapraktik ternyata tak hanya terjadi di dunia kedokteran. Di dunia pendidikan, kasus malapraktik pun banyak ditemukan terutama pada kelas pemula di jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), yakni kelas 1, 2 dan 3. ” Siswa malas belajar, menjadi pasif, dan takut terhadap jenis mata pelajaran tertentu, serta prestasi siswa tidak optimal, ini bisa jadi indikasi malapraktik. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4395&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA–Malapraktik ternyata tak hanya terjadi di dunia kedokteran. Di dunia pendidikan, kasus malapraktik pun banyak ditemukan terutama pada kelas pemula di jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), yakni kelas 1, 2 dan 3. ” Siswa malas belajar, menjadi pasif, dan takut terhadap jenis mata pelajaran tertentu, serta prestasi siswa tidak optimal, ini bisa jadi indikasi malapraktik. Padahal, saat di TK siswa-siswa itu kreatif,” ujar Kepala Sub Direktorat Program Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Abi Sujak, dalam siaran persnya, Rabu (2/9).Menurut Abi, indikasi demikian banyak ditemukan pada anak didik.<span id="more-4395"></span></p>
<p>Namun tidak banyak guru yang menyadari bahwa apa yang terjadi pada siswa tersebut sebenarnya merupakan bentuk malapraktik pendidikan. Malapraktik ini, lanjut dia, terjadi akibat beberapa hal. ”Di antaranya guru kurang memahami latar belakang dan bakat siswa serta perbedaan budaya antara guru dengan lingkungan sekolah,” jelasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menyelamatkan siswa dari malapraktik ini, Depdiknas bakal menerapkan program induksi bagi guru pemula. Program induksi adalah semacam orientasi bagi guru pemula untuk mengenal dan memahami tugas-tugasnya sebagai pendidik, dengan mengedepankan pengenalan lingkungan dan siswa yang akan dihadapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Program yang akan diterapkan selama setahun tersebut bakal melibatkan kepala sekolah maupun guru senior untuk menjadi mentor saat guru pemula melakukan tugas pengajaran di kelas. ”Jika dalam evaluasi ternyata guru yang bersangkutan tidak layak mengajar, maka ia tidak bisa dipaksakan menjadi guru. Ia bisa saja dialihkan ke tugas lain seperti administrasi atau petugas perpustakaan,” cetusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Program induksi ini, diakui Abi, untuk sementara hanya diberlakukan pada guru-guru pemula. Pertimbangannya, selain keterbatasan dana, umumnya guru pemula belum banyak mengenal lapangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, belum bisa dipastikan kapan program induksi ini bakal diterapkan mengingat payung hukumnya belum ada. Namun Depdiknas sendiri sudah menerapkan program ini pada enam kabupaten percontohan yakni Sumedang, Bantul, Pasuruan, Padang, Banjarbaru, dan Minahasa Utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, dari data Depdiknas untuk tiga tahun ke depan bakal ada ribuan guru pemula. Menurut Edy Rahmat Widodo, dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), pada 2012 nanti terdapat 222 ribu guru yang pensiun, lalu 10 tahun ke depan 470 ribu guru pensiun, dan 15 tahun ke depan 890 ribu guru pensiun.</p>
<p style="text-align:justify;">Edy mengingatkan, 15 tahun ke depan–jika 890 ribu guru pensiun–akan ada sekitar 26,7 juta murid yang akan diajar guru-guru baru. ”Terhadap guru-guru pemula inilah kami akan <em>setting</em> program induksi,” tandasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber diambil dari : Republika Online (Rabu, 02 September 2009)</p>
<p style="text-align:justify;">===============</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Refleksi:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan pada tingkat Sekolah Dasar (SD), khususnya pada kelas bawah  merupakan bentuk pendidikan yang amat vital dan mendasar. Kegagalan proses  pendidikan pada masa ini akan berpengaruh bagi perkembangan individu  pada masa berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu,  diperlukan kearifan dari para guru yang memegang siswa-siswa kelas bawah ini. Dalam hal ini, pemenuhan persyaratan kompetensi sebagai guru SD tampaknya menjadi mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Berbekal kompetensi yang memadai  inilah diharapkan tidak tejadi lagi aneka bentuk malpraktik  atau maltreatment dalam pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya, dalam hal in<span style="text-decoration:underline;"><span style="font-weight:bold;">i saya</span></span> mendukung sepenuhnya  gagasan program induksi bagi para guru pemula yang ditawarkan oleh Depdiknas, sebagaimana dikemukakan di atas. Dengan harapan semoga dapat semakin memperkokoh penguasaan kompetensi bagi para guru yang bersangkutan. Melalui program induksi ini diharapkan dapat terlahir guru-guru kontruktivis, yang mampu membangun dan mengembangkan segenap potensi yang dimiliki peserta didiknya. Bukan sebaliknya,  menjadi perusak perkembangan peserta didik alias destruktivis.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita amati lebih dalam, bentuk-bentuk malpraktik dalam dunia pendidikan, sesungguhnya tidak hanya terjadi di lingkungan SD saja, pada jenjang pendidikan di atasnya pun tampaknya  masih dapat ditemukan berbagai bentuk tindakan malpraktik yang dilakukan oleh para pendidik, baik pada tingkat SLTP, SLTA, bahkan Perguruan Tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, sasaran program induksi ini pun seyogyanya dapat diperluas lagi, tidak hanya disiapkan bagi para guru  pemula di lingkungan SD tetapi juga dapat diberikan kepada para guru pemula di SLTP dan SLTA.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana teknis implementasi  dari program induksi ini? Bagaimana  pula peran pengawas sekolah dalam program ini? Mari kita tunggu perkembangan selanjutnya!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4395&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/program-induksi-untuk-mencegah-malpraktik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 18:24:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4394&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : </em></p>
<p>(1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar;</p>
<p>(2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran;</p>
<p>(3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.<span id="more-4394"></span></p>
<p>(4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.</p>
<p>Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya:</p>
<p>(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,</p>
<p>(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan</p>
<p>(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP.</p>
<p>Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari:</p>
<p>(1) perencanaan (plan);</p>
<p>(b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kata Kunci : <em>lesson study, kolaboratif, plan, do, check, act</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>A. Pendahuluan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang <em>Lesson Study,</em> yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (<em>teacher-centered</em>) dari pada bagaimana siswa belajar (<em>student-centered</em>), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.</p>
<p>Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok<em> laggard</em> (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, <em>Lesson Study </em>tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkas tentang apa itu<em> Lesson Study</em> dan bagaimana tahapan-tahapan dalam <em>Lesson Study</em>, dengan harapan dapat memberikan pemahaman sekaligus dapat mengilhami kepada para guru (calon guru) dan pihak lain yang terkait untuk dapat mengembangkan <em>Lesson Study</em> lebih lanjut guna kepentingan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>B. Hakikat <em>Lesson Study</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Konsep dan praktik <em>Lesson Study</em> pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah <em>kenkyuu jugyo</em>. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan <em>kenkyuu jugyo</em> di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan <em>Lesson Study</em> tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang <em>Lesson Study</em> di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, <em>Lesson Study</em> dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Lesson Study</em> bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. <em>Lesson Study</em> bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam <em>Total Quality Management</em>, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. <em>Lesson Study</em> merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (<em>learning society</em>) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial.</p>
<p>Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang <em>Lesson Study</em> sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan <em>mutual learning</em> untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bill Cerbin &amp; Bryan Kopp mengemukakan bahwa <em>Lesson Study</em> memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta <em>Lesson Study</em>; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari<em> Lesson Study</em>, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Tujuan bersama untuk jangka panjang</em>. <em>Lesson study</em> didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.</li>
<li><em>Materi pelajaran yang penting. Lesson study</em> memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.</li>
<li><em>Studi tentang siswa secara cerma</em>t. Fokus yang paling utama dari <em>Lesson Study</em> adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.</li>
<li><em>Observasi pembelajaran secara langsung.</em> Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya <em>Lesson Study</em>. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (<em>Lesson Plan</em>) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan <em>videotape</em> atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa <em>Lesson Study</em> sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat:</p>
<p>(1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa,</p>
<p>(2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan,</p>
<p>(3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan <em>Lesson Study</em>),</p>
<p>(4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa,</p>
<p>(5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran,</p>
<p>(6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan</p>
<p>(7) mengembangkan “<em>The Eyes to See Students</em>” (<em>kodomo wo miru me</em>), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara itu, menurut <em>Lesson Study Project</em> (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari <em>Lesson Study</em>, diantaranya:</p>
<p>(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,</p>
<p>(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan</p>
<p>(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari <em>Lesson Study</em>. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terkait dengan penyelenggaraan <em>Lesson Study</em>, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan <em>Lesson Study</em>, yaitu L<em>esson Study </em>berbasis sekolah dan <em>Lesson Study </em>berbasis MGMP. <em>Lesson Study </em>berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan <em>Lesson Study</em> berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam hal keanggotaan kelompok, <em>Lesson Study Reseach Group</em> dari <em>Columbia University</em> menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai <em>decision maker</em> di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam <em>Lesson Study</em>, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui <em>Lesson Study.</em> Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>C. Tahapan-Tahapan <em>Lesson Study</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam <em>Lesson Study</em> ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa <em>Lesson Study</em> dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep <em>Plan-Do-Check-Act</em> (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam <em>Lesson Study</em>, yaitu : (1) Perencanaan (<em>Plan</em>); (2) Pelaksanaan (<em>Do</em>) dan (3) Refleksi (<em>See</em>). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari <em>University of Wisconsin</em> mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Form a Team</em>: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.</li>
<li><em>Develop Student Learning Goals</em>: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari <em>Lesson Study</em>.</li>
<li><em>Plan the Research Lesson</em>: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.</li>
<li><em>Gather Evidence of Student Learning</em>: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.</li>
<li><em>Analyze Evidence of Learnin</em>g: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa</li>
<li><em>Repeat the Process</em>: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan <em>sharing</em> atas temuan-temuan yang ada.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep <em>Plan-Do-Check-Act</em> (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan <em>Lesson Study</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>1. Tahapan Perencanaan (<em>Plan</em>)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam <em>Lesson Study</em> berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi <em>sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang</em>, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>2. Tahapan Pelaksanaan (<em>Do</em>)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas <em>Lesson Study </em>yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.</li>
<li>Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program <em>Lesson Study</em>.</li>
<li>Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.</li>
<li>Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.</li>
<li>Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.</li>
<li>Pengamat dapat melakukan perekaman melalui <em>video camera</em> atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.</li>
<li>Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>3. Tahapan Refleksi (</strong><strong>Check)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (<em>bukan terhadap guru yang bersangkutan</em>). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, <em>tidak berdasarkan opininya</em>. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>4. Tahapan Tindak Lanjut (<em>Act</em>)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (<em>check</em>) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta <em>Lesson Study,</em> tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam <em>Lesson Study</em>, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>D. Kesimpulan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Lesson Study</em> merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.</li>
<li>Tujuan <em>Lesson Study</em> adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.</li>
<li>Ciri-ciri dari <em>Lesson Study</em> yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung</li>
<li><em>Lesson study</em> memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari <em>Lesson Study</em></li>
<li>Penyelenggaraan <em>Lesson Study </em>dapat dilakukan dalam dua tipe: (a)<em> Lesson Study</em> berbasis sekolah; dan (a) <em>Lesson Study</em> berbasis MGMP.</li>
<li><em>Lesson Study</em> dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (<em>plan</em>); (b) pelaksanaan (<em>do</em>); (c) refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (<em>act</em>).</li>
</ol>
<p>Oleh : <strong>Akhmad Sudrajat</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Sumber Bacaan:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bill Cerbin &amp; Bryan Kopp. <em>A Brief Introduction to College Lesson Study</em>. <em>Lesson Study Project</em>. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Catherine Lewis (2004) <em>Does Lesson Study Have a Future in the United States?</em>. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Slamet Mulyana. 2007. <em>Lesson Study </em>(Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wikipedia.2007. <em>Lesson Study. </em>Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4394/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4394&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ciri-Ciri Guru Konstruktivis</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/ciri-ciri-guru-konstruktivis/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/ciri-ciri-guru-konstruktivis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 18:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Brooks &#38; Brooks (Iim Waliman, dkk. 2001) terdapat beberapa ciri yang menggambarkan seorang guru yang konstruktivis dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa, yaitu: Guru mendorong, menerima inisiatif dan kemandirian siswa. Guru menggunakan data mentah sebagai sumber utama pada fokus materi pembelajaran. Guru memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terarah pada pelatihan kemampuan mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4393&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut Brooks &amp; Brooks (Iim Waliman, dkk. 2001) terdapat beberapa ciri yang menggambarkan seorang guru yang konstruktivis dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa, yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Guru mendorong, menerima inisiatif dan kemandirian siswa.</li>
<li>Guru menggunakan data mentah sebagai sumber utama pada fokus materi pembelajaran.</li>
<li>Guru memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terarah pada pelatihan kemampuan mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan menciptakan.<span id="more-4393"></span></li>
<li>Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguraikan isi pelajaran dan mengubah strategi belajar mengajar.</li>
<li>Guru melakukan penelusuran pemahaman siswa terhadap suatu konsep sebelum memulai pembelajaran.</li>
<li>Guru mendorong terjadinya dialog dengan dan antar siswa.</li>
<li>Guru mendorong siswa untuk berfikir, melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka dan mendorong siswa untuk bertanya sesama teman.</li>
<li>Guru melakukan elaborasi respon siswa siswa, baik yang sudah benar maupun yang belum benar.</li>
<li>Guru melibatkan siswa pada pengalaman yang menimbulkan kontradiksi dengan hipotesis siswa dan mendiskusikannya.</li>
<li>Guru memberikan waktu berfikir yang cukup bagi siswa dalam menjawab pertanyaan</li>
<li>Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba menghubungkan beberapa hal yang dipelajari untuk meningkatkan pemahaman.</li>
<li>Guru di akhir pembelajaran memfasilitasi proses penyimpulan melalui acuan yang benar.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4393/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4393&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/ciri-ciri-guru-konstruktivis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>5 Bentuk Budaya Guru</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/5-bentuk-budaya-guru/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/5-bentuk-budaya-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 18:05:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Budaya sekolah memiliki bentuk-bentuk budaya tertentu dan salah satunya adalah bentuk budaya guru yang menggambarkan tentang karakeristik pola-pola hubungan guru di sekolah. Hargreaves (1992) telah mengidentifikasi lima bentuk budaya guru, yaitu : Individualism, Balkanization, Contrived Collegiality, Collaboration, dan Moving Mosaic. 1. Individualism. Budaya dalam bentuk ini ditandai dengan adanya sebagian besar guru bekerja secara sendiri-sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4392&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Budaya sekolah</strong> memiliki bentuk-bentuk budaya tertentu dan salah satunya adalah bentuk budaya guru yang menggambarkan tentang karakeristik pola-pola hubungan guru di sekolah. Hargreaves (1992) telah mengidentifikasi lima bentuk budaya guru, yaitu : <strong><em>Individualism, Balkanization, Contrived Collegiality,</em> <em>Collaboration, </em></strong>dan<strong><em> Moving Mosaic.</em></strong></p>
<p><strong><em>1. Individualism</em></strong><em>.</em> Budaya dalam bentuk ini ditandai dengan adanya sebagian besar guru bekerja secara sendiri-sendiri (soliter), mereka menjadi tersisolasi dalam ruang kelasnya, dan hanya sedikit kolaborasi, sehingga kesempatan pengembangan profesi melalui diskusi atau <em>sharing </em>dengan yang lain menjadi sangat terbatas.<span id="more-4392"></span></p>
<p><strong><em>2. Balkanization</em></strong><em>.</em> Bentuk budaya yang kedua ini ditandai dengan adanya sub-sub kelompok secara terpisah yang cenderung saling bersaing dan lebih mementingkan kelompoknya daripada mementingkan sekolah secara keseluruhan. Misalnya, hadirnya kelompok guru senior dan guru junior atau kelompok-kelompok guru berdasarkan mata pelajaran. Pada budaya ini, komunikasi jarang terjadi dan kurang adanya kesinambungan dalam memantau perkembangan perilaku siswa, bahkan cenderung mengabaikannya.<br />
<strong><em><br />
3. Contrived</em></strong><em> <strong>Collegiality</strong>.</em> Bentuk budaya yang ketiga ini sudah terjadi kolaborasi yang ditentukan oleh manajemen, misalnya menentukan prosedur perencanaan bersama, konsultasi dan pengambilan keputusan, serta pandangan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Bentuk budaya ini sangat bermanfaat untuk masa-masa awal dalam membangun hubungan kolaboratif para guru. Kendati demikian, pada buaya ini belum bisa menjamin ketercapaian hasil, karena untuk membangun budaya kolaboratif memang tidak bisa melalui paksaan.<br />
<strong><em><br />
4. Collaboration</em></strong><a title="Team Work di Sekolah" href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/01/memperbaiki-mutu-pendidikan-melalui-team-work/"><em>.</em> </a>Pada budaya inilah guru dapat memilih secara bebas dan saling mendukung dengan didasari saling percaya dan keterbukaan. Dalam budaya kolaboratif terdapat saling keterpaduan (<em>intermixing</em>) antara kehidupan pribadi dengan tugas-tugas profesional, saling menghargai, dan adanya toleransi atas perbedaan.<br />
<strong><em><br />
5. Moving</em></strong><em> <strong>Mosaic</strong>.</em> Pada model ini sekolah sudah menunjukkan karakteristik seperti apa yang disampaikan oleh Senge (1990) tentang “<em>learning organisation</em>”. Para guru sangat fleksibel dan adaptif, semua guru mengambil peran, bekerja secara kolaboratif dan reflektif, serta memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4392/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4392&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/5-bentuk-budaya-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemberdayaan Guru</title>
		<link>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/pemberdayaan-guru/</link>
		<comments>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/pemberdayaan-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 17:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunarto Joko Respati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sdnmenteng01.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya dalam bidang informasi dan komunikasi, telah menjadikan dunia ini terasa semakin menjadi sempit dan transparan. Antara satu belahan dunia dengan belahan dunia lainnya dengan mudah dapat dijangkau dan dilihat dalam waktu yang relatif singkat. Itulah globalisasi, yang di dalamnya membawa berbagai implikasi yang luas dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4391&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya dalam bidang informasi dan komunikasi, telah menjadikan dunia ini terasa semakin menjadi sempit dan transparan. Antara satu belahan dunia dengan belahan dunia lainnya dengan mudah dapat dijangkau dan dilihat dalam waktu yang relatif singkat.</p>
<p>Itulah globalisasi, yang di dalamnya membawa berbagai implikasi yang luas dan kompleks bagi kehidupan manusia. Implikasi nyata dari adanya globalisasi adalah terjadinya perpacuan manusia yang mengglobal. Seorang individu dalam berkarya tidak hanya dituntut untuk mampu berkiprah dan berkompetisi sebatas tingkat lokal dan nasional semata, namun lebih jauh harus dapat menjangkau sampai pada tingkat kompetisi global, yang memang di dalamnya berisi sejumlah tantangan dan peluang yang begitu ketat.<span id="more-4391"></span></p>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Pada saat yang bersamaan, kita pun saat ini sedang dihadapkan dengan era otonomi daerah, yaitu sebuah paradigma baru dari sistem pemerintahan, yang semula bersifat otoriter-sentralistik menuju ke arah demokratik-desentralistik. Sebagai paradigma baru, tentunya akan mempunyai implikasi yang sangat luas pula terhadap tatanan kehidupan. Berbagai persoalan akan muncul, baik yang bersifat tantangan maupun hambatan. Dengan kewenangan yang luas, daerah seyogyanya lebih mampu untuk memberdayakan diri dan memacu partisipasi masyarakatnya dalam berbagai kegiatan pembangunan, sehingga pada gilirannya benar-benar akan dapat terwujud berbagai kemajuan yang signifikan.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Dari sini timbul pertanyaan, bagaimanakah agar kita benar-benar dapat survive dan eksis guna menghadapi kedua tantangan zaman tersebut. Tak lain jawabannya, kualitas sumber daya manusia ! Faktor kualitas sumber daya manusia menjadi amat penting karena hanya dengan sentuhan manusia-manusia yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, keterampilan yang handal dan sikap moral yang tinggi, maka berbagai persoalan yang muncul sebagai konsekwensi logis dari adanya era globalisasi dan era otononomi daerah sangat diyakini akan bisa terjawab. Oleh karena itu, gerakan usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia hendaknya menjadi komitmen seluruh komponen bangsa. Melalui usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia diharapkan dapat tercipta manusia-manusia yang dapat diandalkan untuk menjadi motor penggerak pembangunan di daerah. Sekaligus pula, dapat diandalkan untuk mampu berkiprah dalam percaturan global.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Pada kenyataaannya, memang harus diakui bahwa saat ini tingkat kualitas sumber daya manusia Indonesia sangat mengkhawatirkan, jangankan untuk bersaing pada tingkat global, untuk tingkat regional ASEAN saja, kita berada pada posisi di bawah Vietnam, yakni sebuah negara yang beberapa tahun lalu berkecamuk dilanda perang saudara. Namun, dengan dukungan political will yang kuat dari pemerintah setempat untuk mengkampanyekan pentingnya pendidikan, dengan mengangkat tema sentral posisi guru sebagai kunci utama keberhasilan peningkatan sumber daya manusia, maka dalam waktu yang relatif singkat, saat ini Vietnam telah berhasil mengangkat posisi kualitas sumber daya manusianya di atas kita.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Rasanya tak perlu malu, kalau kita belajar menimba pengalaman dari keberhasilan Vietnam dalam membangun sumber daya manusianya, yakni dengan berusaha menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan, dengan tema sentral yang sama yakni guru sebagai kunci utama keberhasilan peningkatan sumber daya manusia. Memang, berdasarkan hasil studi di negara-negara berkembang telah membuktikan bahwa guru memberikan kontribusi tertinggi dalam pencapaian prestasi belajar (36%), kemudian disusul manajemen (23%), waktu belajar (22%), dan sarana fisik (19%), sebagaimana disampaikan oleh Dirjen Dikdasmen pada acara Dies Natalis XVI Universitas Terbuka.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Suka atau tidak suka, memang harus diakui bahwa semasa rezim orde baru yang otoriter dan sentralistik itu telah menempatkan profesi guru berada pada posisi yang termarjinalkan dari keseluruhan sistem pembangunan. Akibatnya, dalam pengelolaan dan pengembangan proses pembelajaran seringkali guru menjadi miskin kreativitas, karena selalu dicekoki oleh berbagai aturan yang sangat mengikat dan kaku. Kebebasan mengaktulisasikan diri untuk menjadi seorang profesional terhambat dan guru hanya berperan sebagai tenaga juru belaka, yang bertugas menyampaikan apa yang telah disajikan dari pusat dalam bentuk petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pada tahap evaluasi sekali pun.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Terlebih lagi dengan adanya kewajiban untuk memenuhi target-target materi kurikulum tertentu yang seringkali menimbulkan rasa stress, baik guru maupun siswa. Demi mengejar target materi, seringkali terjadi pemaksaan penjejalan materi kepada siswa. Mengerti atau tidak mengerti apa yang telah disampaikan guru, menjadi urusan belakangan.Beban lain yang harus ditanggung guru yaitu menyangkut kewajiban membuat berbagai perangkat administrasi yang sudah terpolakan secara baku dan bermacam-macam jenisnya. Bahkan ada persepsi bahwa guru yang baik adalah yang memiliki administrasi lengkap. Dari sini timbul sikap pragmatis, yang penting administrasi bagus, meskipun pada kenyataannya, antara yang tertulis dalam administrasi dengan pelaksanaan, sesungguhnya sangat bertolak belakang.</p>
</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Hal yang mendasar dan menjadi persoalan utama guru adalah menyangkut kesejahteraannya. Tunjangan fungsional yang diskriminatif dibandingkan dengan profesi lain telah menimbulkan rasa cemburu di kalangan guru. Selain itu, berbagai kasus pemotongan gaji untuk kepentingan yang tidak masuk akal seringkali terjadi. Begitu juga, prosedur kenaikan pangkat yang berbelit-belit dan selalu berakhir dengan pungutan-pungutan yang tidak jelas juntrungnya, kiranya semakin melengkapi rasa frustrasi guru.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Akumulasi berbagai persoalan yang dihadapi guru berdampak luas terhadap melemahnya kinerja guru. Guru melaksanakan tugas semata-mata sebagai rutinitas, tanpa disertai proses kreatif dan inovatif. Sudah bisa hadir di kelas pun di anggap cukup. Sekali-kali tidak masuk kelas dan hanya diwakili oleh tugas yang harus dikerjakan siswa, masih dianggapnya wajar. Pemberian evaluasi kepada siswa berjalan seadanya, manakala hasil ulangan jeblok pun, tidak perlu lagi usaha untuk meneliti kenapa terjadi kegagalan, apalagi berusaha mencari pengentasannya. Bahkan berdampak pula terhadap relasi antara guru dengan siswa yang terasa senjang. Guru tidak peduli lagi apa yang terjadi dengan siswa, baik tentang kondisi fisik, kesehatan, kesulitan, kebutuhan, minat, perasaan, kemampuan maupun harapan-harapannya. Yang jelas, kalau ada siswa yang tidak hadir atau ngantuk di kelas tetap akan dianggap sebagai tindakan indisipliner yang perlu diberi sanksi.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Hubungan antara guru dan siswa yang humanis berjalan mandeg. Tidak terbangun lagi rasa saling asah, saling asih dan saling asuh. Oleh karenanya tidak aneh kalau banyak ditemukan siswa yang sama sekali tidak lagi memberikan rasa hormat terhadap gurunya sendiri. Karena keduanya sama-sama untuk mengambil sikap masa bodoh. Siswa lebih asyik mencari kompensasi dalam bentuk tawuran atau narkoba, dan tindakan kenakalan remaja lainnya, karena memang mereka sedang diliputi rasa frustasi yang mendalam akibat dari kegagalan dan tak terpenuhinya berbagai kebutuhan psikisnya. Harapan untuk menemukan jati diri, mendapatkan keterampilan, memperoleh pengetahuan dan membangun kehidupan sama sekali tidak didapatkannya.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Fenomena yang mencerminkan carut marutnya wajah pendidikan kita dan keterpurukan guru semacam itu harus ditebus mahal dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia seperti sekarang ini, yang tentunya semua itu harus segera berakhir, jika kita semua ingin menjadi bangsa yang terhormat, sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih dulu maju.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Sejalan dengan hadirnya gerakan reformasi di tengah-tengan kehidupan kita, maka perubahan yang mendasar dalam penyelenggaraan sistem pendidikan harus dilakukan, termasuk di dalamnya usaha untuk menempatkan guru sebagai kunci utama keberhasilan pendidikan. Seyogyanya guru diberikan otonomi yang lebih luas dalam melaksanakan berbagai tugas, fungsi dan kewajibannya, sehingga tidak lagi harus terpaku pada pola-pola yang dibakukan, seperti berbagai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang menyebabkan kreativitas guru menjadi terpasung. Guru harus didorong berbuat lebih kreatif dan inovatif untuk menemukan sendiri berbagai metode dan cara baru yang paling sesuai dan tepat dalam proses pembelajaran, yang ditujukan demi keberhasilan para siswanya.Begitu juga, bobot penilaian dan penghargaan kepada guru hendaknya ditekankan pada hal-hal lebih esensial dan subtansial yaitu sejauhmana guru dapat melaksanakan proses pembelajaran secara efektif dan sejauhmana guru dapat mengembangkan pola interaksi belajar yang kondusif. Jadi, bukan hanya sekedar dilihat dari segi kemampuan administratif semata.</p>
</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Berbagai bentuk ganjalan yang berkaitan dengan kesejahteraan guru hanya bisa dilakukan melalui komitmen dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, untuk menempatkan guru sebagai profesi yang berhak mendapatkan penghargaan dan balas jasa yang layak. Pemberian tunjangan tidak dilakukan secara diskriminatif lagi, sehingga tidak terjadi lagi berbagai kesenjangan yang lebar, baik antara guru dengan guru itu sendiri, guru dengan dosen, maupun guru dengan profesi lainnya.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Berbagai bentuk pemerasan terhadap guru, dengan dalih apa pun tidak bisa dibenarkan lagi dan harus segera dihentikan. Birokrat yang masih bermental korup sudah waktunya untuk tidak diberi tempat lagi, karena bagaimana pun, guru saat ini sudah sanggup menunjukkan sikap kritis dan keberaniannya untuk mengambil sikap yang terbaik bagi dirinya.</div>
<div class="entry-content" style="text-align:justify;">Akhirnya, sejalan dengan upaya pemberdayaan guru, baik dari segi kinerja maupun kesejahteraannya, maka harapan untuk terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas akan menjadi menjadi kenyataan, yang pada gilirannya nanti akan terbentuk manusia-manusia yang sanggup menjadi pelopor pembangunan di daerahnya masing-masing, dengan memiliki dan wawasan sanggup berkiprah secara global.Oleh : <strong>AKHMAD SUDRAJAT</strong></p>
<p>Daftar Pustaka :</p>
</div>
<p>Ahmad Tafsir, Dr., (1992), Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : PT.Remaja Rosdakarya.</p>
<p>Ali Saifullah HA, Drs., (1981), Antara Filsafat dan Pendidikan : Pengantar Filsafat Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional.</p>
<p>Andreas Harefa., (2000), Menjadi Manusia Pembelajar, Jakarta : PT.Kompas.</p>
<p>Hasan Langgulung, Prof., Dr., (1986), Manusia dan Pendidikan : Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta : Pustaka Al-Husna.</p>
<p>Idochi Anwar, Prof.,Dr., &amp; Yayat Hidayat Amir, Drs., M.Pd., (2000), Administrasi Pendidikan : Teori, Konsep &amp; Issue, Bandung : Program Pasca Sarjana UPI Bandung.</p>
<p>Ismaun, Prof.,Dr., (2001), Filsafat Ilmu : Diktat Kuliah Bandung : Program Pasca Sarjana UPI Bandung.</p>
<p>John Vaizey (1987), Pendidikan di Dunia Modern, Jakarta : Gunung Agung.<br />
Sardjan Kadir, Drs. &amp; Umar Ma’sum, Drs., (1982), Pendidikan di Negara Sedang Berkembang, Surabaya : Usaha Nasional.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sdnmenteng01.wordpress.com/4391/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sdnmenteng01.wordpress.com&amp;blog=2175875&amp;post=4391&amp;subd=sdnmenteng01&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sdnmenteng01.wordpress.com/2011/12/12/pemberdayaan-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8a43dc7107288ff47ea3e2c0fe1cd6e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ningsih</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
